Jumlah Pengunjung

Rabu, 22 Maret 2017

TRANS STUDIO BANDUNG

Trans Studio Bandung adalah sebuah tempat wisata modern yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat.

Trans Studio Bandung merupakan salah satu destinasi wisata favorit pengunjung yang sedang liburan di Kota Bandung.

Trans Studio Bandung menyajikan wisata hiburan dengan taman bermain yang berada di dalam ruangan terbesar di Indonesia bahkan dunia. Trans Studio Bandung ini dikelola oleh Trans Corp.

Harga tiket masuk Trans Studio Bandung adalah Rp 150.000,- untuk hari biasa dan Rp 250.000,- untuk weekend dan hari libur nasional. Tiket masuk tersebut digunakan untuk menikmati segala macam wahana yang ada di Trans Studio Bandung.

Trans Studio Bandung berada di Jalan Gatot Subroto Nomor 289, Bandung Jawa Barat. Berada satu kompleks dengan Trans Studio Mall, yang sebelumnya bernama Bandung Super Mall (BSM), yang merupakan salah satu mall terbesar di Kota Bandung.


Di dalam ruangan Trans Studio Bandung terdapat versi mini Menara Eiffel (cirri khas Kota Paris, Prancis) yang tinggi menjulang, berada tepat di atas salah satu eskalator. Mungkin alasan ini, yang menjadikan Kota Bandung dijuluki sebagai Kota Paris Van Java.

Bagi yang memiliki uang pas-pasan. Tidak perlu khawatir. Tetap dapat berkunjung ke Trans Studio Bandung. Berputar keliling di area yang tidak menggunakan tiket masuk, sembari menarsiskan diri untuk berselfie ria dengan view Trans Studio Bandung yang berada di beberapa titik.

Banyak orang yang beranggapan, belum lengkap rasanya apabila sudah datang jauh-jauh untuk liburan ke Kota Bandung, tetapi belum mampir di Trans Studio Bandung. Jadi tidak ada salahnya untuk menyempatkan diri berkunjung ke sini, meskipun tujuannya hanya untuk memiliki koleksi foto dengan moment tersebut. Seperti yang saya lakukan. Semoga bermanfaat.

Rabu, 15 Maret 2017

PERJUANGAN MENUJU KAWAH PUTIH, CIWIDEY BANDUNG SELATAN (BAGIAN II)

Dari parkir atas, kamera mulai banyak difungsikan. Mengingat spot-spot yang dijumpai semuanya indah-indah. Mulai dari hutan yang bernuansa seperti berada di Negara Jepang. Jadi tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang. Cukup liburan di Kawah Putih Ciwidey, pengunjung akan menikmati sensasi tak ubahnya seperti berada di Negara Sakura tersebut.

Dari lapangan yang berada tidak jauh dari lokasi Kawah Putih, terdapat anak tangga untuk turun menuju pusat Kawah Putih. Dari tangga ini, terlihat Kawah Putih yang mempesona dengan air danaunya yang berwarna putih kehijau-hijauan.

Pada saat hari libur atau weekend, biasanya Kawah Putih dipadati pengunjung nusantara dari berbagai daerah. Bahkan terkadang ada juga turis yang memilih liburan ke Gunung Patuha ini. Jadi harus pintar-pintar memilih spot untuk mengabadikan moment tersebut dengan view Kawah Putih tanpa gangguan dari pengunjung lainnya yang merusak konsentrasi dan fose-fose foto anda.

Sebenarnya memang ada larangan untuk tidak makan dan minum di pusat Kawah Putih, karena dapat mengganggu kesehatan. Tetapi waktu itu karena sedang kehausan juga perut keroncongan. Tanpa saya ingat larangan tersebut, saya menyempatkan diri untuk menyantap makanan yang saya bawa dari kontrakan di Bukit Jarian II Ciumbuleuit Bandung. Setelah kenyang, saya sadar dan baru ingat akan larangan tersebut. Dan alhasil, saya mengalami sedikit gangguan yaitu mual-mual dan sedikit pusing. Tetapi keliling Kawah Putih tetap saya lanjutkan.

Ada sebuah tempat yang dikhususkan bagi lansia untuk memandang Kawah Putih dari atas ketinggian. Di lokasi ini, Kawah Putih dapat dilihat dengan jelas. Tentunya, tempat ini dijadikan salah satu spot yang banyak dikunjungi meskipun bukan lansia.

Jika berkunjung ke Kawah Putih, sebaiknya gunakan jaket yang tebal. Karena suhu dingin akan menusuk hingga ke tulang. Apalagi daerah Ciwidey memang terkenal akan suhu dinginnya.

Setelah puas berkeliling di Kawah Putih, saatnya untuk turun kembali ke parkir bawah. Tidak perlu lagi membayar, karena biaya Angkutan Ontang Anting sudah dibayar waktu pertama membeli tiket tadi. Sehingga tinggal memilih dan menaiki Angkutan Ontang Anting yang sudah ngetem berjejer satu persatu. Dan jangan lupa, sebelum pulang sebaiknya membeli oleh-oleh baik berupa kaos berkerah, boneka, bantal dan lain-lain yang terdapat tulisan Kawah Putih, ataupun pernak-pernik berupa gelang, gantungan kunci dan lain-lain yang hanya dapat ditemukan di parkir bawah kompleks Kawah Putih, Ciwidey Bandung Selatan.

Semoga bermanfaat saat anda punya waktu luang untuk liburan di Kawah Putih. Terima kasih…

PERJUANGAN MENUJU KAWAH PUTIH, CIWIDEY BANDUNG SELATAN (BAGIAN I)

Selain Gunung Tangkuban Parahu, yang berada di perbatasan antara Lembang dan Subang Jawa Barat. Kawah Putih menjadi salah satu primadona penikmat wisata alam di Kota Bandung. Terletak di Ciwidey Bandung Selatan, Kawah Putih menjadi incaran pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung keindahan Kawah Gunung Patuha yang digenangi air belerang berwarna putih kehijau-hijauan.

Perjalanan menuju Kawah Putih membutuhkan perjuangan yang lumayan besar dan selama di perjalanan cukup menyita waktu. Dari Kota Bandung, jika menggunakan sepeda motor, rute yang dituju pertama kali adalah Terminal Leuwi Panjang. Dari Terminal Leuwi Panjang, rute selanjutnya adalah menuju Jalan Kopo yang terdiri dari beberapa jalan. Kemudian dari Kopo menuju Soreang. Dan dari Soreang menuju Ciwidey. Setelah memasuki Ciwidey, jalan yang ditempuh mulai menanjak dan berkelok-kelok. Pastikan bensin motor cukup agar bisa sampai di gerbang utama Kawah Putih.

Setelah sampai di gerbang utama Kawah Putih, perjuangan belum usai. Para pengunjung yang menggunakan sepeda motor maupun menggunakan Bus, harus memarkirkan kendaraannya di area “parkir bawah” yang disediakan. Pada saat memarkirkan sepeda motor, biasanya pengunjung “diharuskan” menitipkan helm dengan biaya Rp 5.000,- berikut dengan masker 1 buah seharga Rp 5.000,- juga. Padahal sebenarnya tidak masalah untuk tidak menitipkan helm ataupun untuk tidak membeli masker. Tetapi karena sebagian pengunjung baru pertama kali datang ke Kawah Putih, kebanyakan mengira menitipkan helm merupakan bagian dari penjagaan parkir, ternyata kesempatan tersebut sengaja dimanfaatkan warga setempat untuk menjual masker dengan harga yang mencengangkan.

Dari area parkir bawah, langkah selanjutnya menuju loket pembelian tiket. Biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 40.000,- dengan rincian Rp 5.000,- untuk biaya parkir sepeda motor, Rp 20.000,- untuk tiket masuk, dan Rp 15.000,- untuk biaya naik angkutan ontang anting.

Bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor dan bus, untuk menuju pusat Kawah Putih “diwajibkan” menggunakan angkutan ontang anting yang disediakan. Mengingat jalan yang dilalui rawan kecelakaan, dan dengan jarak tempuh sekitar 6 KM. Ontang anting berasal dari bahasa sunda yang artinya mondar mandir. Jadi, angkutan ontang anting adalah mini bus (angkot) yang sudah dimodifikasi, yang merupakan kendaraan khusus di wilayah Kawah Putih Ciwidey untuk pulang dan pergi dari area parkir bawah menuju area parkir atas dan sebaliknya. Jumlah penumpang untuk satu angkutan ontang anting adalah 12 orang.

Sementara untuk mobil pribadi diperbolehkan melintas dan masuk hingga parkir atas, yang berada di area pusat kawah. Khusus bagi mobil pribadi, tiket masuknya lumayan mahal yaitu Rp 150.000,- untuk satu kendaraan. Di lokasi parkir atas, terdapat tulisan Kawah Putih yang berwarna orange. Spot ini ramai disinggahi pengunjung untuk mengabadikan moment tersebut.


Bersambung…

SITUS MEGALITH GUNUNG PADANG, CIANJUR JAWA BARAT (BAGIAN III)

Teras dua hingga teras lima Situs Megalith Gunung Padang saling berdekatan, berbeda dengan teras satu yang terpisah dan berada di area paling bawah. Di teras dua ini saya bertegur sapa dengan seorang pengelola asli pribumi yang bertugas menjelaskan kepada pengunjung tentang sejarah dan spot-spot apa saja yang diunggulkan di Gunung Padang ini.


Pada teras dua ini, terdapat Batu Korsi yang digunakan sebagai tempat duduk. Terdapat beberapa batu yang berdiri tegak, di mana salah satu dari batu tersebut dijadikan tempat duduk, dan batu lainnya sebagai pegangan.

Pada teras tiga, terdapat Batu Kujang. Batu yang di permukaannya terdapat pahatan berupa kujang. Di mana kujang merupakan benda pusaka asli masyarakat sunda yang diturunkan langsung oleh Eyang Prabu Siliwangi.

Selain Batu Kujang, di teras tiga juga terdapat Batu Tapak Maung. Di permukaan batu ini terdapat jejak kaki harimau yang dalam bahasa sunda disebut maung.

Pada teras empat, terdapat Batu Kanuragan. Batu ini dipercaya oleh orang-orang setempat memiliki kekuatan magis. Sehingga batu ini benar-benar dijaga agar tidak disentuh apalagi diduduki atau bahkan diinjak.

Pada teras lima, terdapat Batu Pandaringan. Pandaringan merupakan bahasa sunda dari Tempat Beras. Mungkin dulunya batu ini dijadikan tempat untuk menumbuk atau menyimpan beras. Jadi jangan sampai gagal fokus ya. Mengira batu ini terdapat gambar panda dan batunya ringan jika diangkat. Heheee…

Selain Batu Pandaringan, di teras lima ini terdapat Singgasana. Terlihat dengan jelas tumpukan batu-batu yang terbentuk seperti tempat duduk seorang raja. Tetapi sayang, keadaan singgasana ini telah berantakan, tinggal reruntuhan saja yang dapat disaksikan secara langsung.

Teras lima merupakan teras terakhir sekaligus teras teratas. Di mana di teras ini terdapat bangunan berlantai dua tanpa dinding yang bisa dijadikan tempat berkumpul bagi para pengunjung.

Di lantai dua bangunan ini, pengunjung dapat dengan jelas melihat hamparan teras lima hingga teras dua yang berjejer dan bertingkat layaknya piramida yang memiliki 5 tingkatan termasuk teras satu yang berada di area paling bawah.

Selain itu, di teras lima juga terdapat warung-warung tempat makan, yang dibuka hanya pada waktu siang hari saja. Terdapat juga toilet umum dan musola yang berada tidak jauh dari lokasi.

Senin, 13 Maret 2017

SITUS MEGALITH GUNUNG PADANG, CIANJUR JAWA BARAT (BAGIAN II)


Setelah menapaki anak tangga dengan pendakian yang cukup melelahkan, semuanya terbayarkan saat pemandangan mulai terlihat di depan mata.

Dinding teras pertama Situs Megalith Gunung Padang nampak berupa tumpukan batu-batu bersegi lima yang membelalakkan mata yang melihatnya.

Teras pertama merupakan area yang paling luas, area paling bawah yang terpisah dari empat teras lainnya yang saling berdekatan di bagian atas. Di teras pertama ini, biasanya pengunjung paling ramai berkumpul, mungkin karena pemandangannya yang menakjubkan, juga karena adanya pihak pengelola yang menceritakan sejarah dan latar belakang dari Situs Megalith yang telah mendunia ini.

Tumpukan batu punden berundak yang hampir semuanya bersegi lima ini, menumpuk bahkan menggunung layaknya sebuah bangunan piramida yang runtuh.


Di teras pertama ini, terdapat sebuah pagar batu yang berbentuk persegi panjang. Di mana di kedua ujungnya masing-masing terdapat gerbang sebagai pintu masuk dan keluar dari pagar tersebut. Di dalam pagar ini terdapat sebuah batu yang juga bersegi lima, berbentuk seperti meja, dengan warna batu yang kuning keemas-emasan.

Terdapat juga beberapa batu gamelan, yang jika dipukul akan menghasilkan suara layaknya alat musik tradisional asli Indonesia.

Di teras pertama yang merupakan teras satu sekaligus teras utama ini, terdapat banyak batu-batu yang tegak berdiri. Ada yang berdiri lurus ke atas, ada juga posisinya yang sudah mengalami kemiringan. Batu-batu yang berdiri ini, dilarang untuk diduduki apalagi dinaiki. Alasan tersebut dipertegas untuk menjaga agar warisan budaya megalitikum ini tetap lestari dan tetap terjaga keamanannya.

Bersambung…